Banyuwangi, Sekitarkita.co - Nuansa Hari Santri Nasional mewarnai aktivitas birokrasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Selama enam hari, mulai Senin hingga Sabtu (19–24 Oktober 2026), aparatur sipil negara (ASN) diajak mengenakan busana khas santri sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan kontribusi kalangan pesantren bagi bangsa dan negara.
Kebijakan tersebut mengatur ASN laki-laki beragama Islam untuk mengenakan sarung dipadukan dengan kemeja muslim. Sementara ASN perempuan muslimah mengenakan gamis. Adapun ASN yang beragama lain menyesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, penggunaan busana ala santri menjadi salah satu cara untuk menghidupkan semangat Hari Santri di lingkungan pemerintahan. Peringatan tahun ini juga diisi beragam kegiatan yang melibatkan santri dan masyarakat.
Baca Juga :
“Hari Santri di Banyuwangi selalu diperingati dengan meriah. Kami juga mengajak karyawan pemkab untuk mengenakan pakaian ala santri,” kata Ipuk.
Menurut dia, peringatan Hari Santri tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan para ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peran tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa yang patut terus dikenang dan dihargai.
Ipuk menegaskan, Hari Santri bukan sekadar agenda tahunan atau kegiatan seremonial. Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para ulama dan santri, mulai dari pengabdian, kejujuran, kerja keras hingga kecintaan terhadap Tanah Air.
Nilai-nilai tersebut, lanjut dia, juga relevan diterapkan dalam pelaksanaan tugas pemerintahan, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Nilai-nilai ini harus terus kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk terus diterapkan oleh ASN dalam menjalankan tugas pelayanan publik,” ujarnya.
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Banyuwangi tidak hanya ditandai dengan penggunaan busana khas santri. Pemerintah daerah juga menyiapkan sejumlah agenda yang menyentuh bidang kesehatan, pendidikan, keagamaan, hingga pengembangan ekonomi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis pada 15–24 Oktober. Selanjutnya, Festival Anak Sholeh digelar pada 18 Oktober, disusul program Santri Mengajar pada 19 Oktober.
Agenda berlanjut dengan Rembuk Santri pada 20 Oktober, Pelatihan Masjid Affiliate pada 21 Oktober, serta program Santri Entrepreneur pada 22 Oktober. Upacara peringatan Hari Santri Nasional juga dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober sebagai salah satu agenda utama.
Melalui rangkaian tersebut, peringatan Hari Santri diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi turut membuka ruang bagi santri untuk mengembangkan kapasitas, memperluas wawasan, serta berkontribusi dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah.
Semangat Hari Santri di Banyuwangi menjadi pengingat bahwa nilai keagamaan, kebangsaan, dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan beriringan. Nilai-nilai itu diharapkan tidak hanya hadir selama peringatan berlangsung, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam penyelenggaraan pelayanan publik. (*)
